PSHT Lembaga Pendidikan Sepanjang Hayat: Dari Wadah Perjuangan Menjadi Organisasi Modern

PSHT Lembaga Pendidikan Sepanjang Hayat: Dari Wadah Perjuangan Menjadi Organisasi Modern
Spread the love

Lamongan– elangmasnews.com-
Hari Pendidikan Nasional rutin diperingati setiap tanggal 2 Mei dan membawa pesan penting dalam membangun SDM di Indonesia yang lebih baik, khususnya kalangan pemuda sebagai generasi penerus bangsa.

Hari Pendidikan Nasional dan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mempunyai kaitan yang erat, terletak pada kesamaan visi dan filosofi, yakni tentang pendidikan karakter.

Hal ini berfokus pada pembentukan manusia seutuhnya, mulai dari mencetak individu yang cerdas, punya kepribadian yang berbudi luhur, dan berdaya guna bagi lingkungan, serta masyarakat.

Dalam momen 2 Mei 2026 ini, penulis menarik untuk menelaah kembali, bagaimana PSHT yang awalnya sebagai wadah pergerakan melawan penjajah, kemudian menjadi organisasi modern yang turut membantu membangun SDM bangsa.

WARISAN SEMANGAT PERJUANGAN

Awalnya, PSHT didirikan (saat itu dengan nama PSC) sebagai wadah perjuangan untuk mengusir penjajah pada tahun 1922, dalam AD/ART 2021 – 2026, kemudian tanggal pendirian ini diatur yaitu pada 1 September 1922, pendirinya yakni Ki Hajar Harjo Utomo, dengan nama kecil Samingoen.

Samingoen bergerak tidak hanya melalui wadah pergerakan, melainkan juga malang melintang di berbagai macam organisasi pendidikan, dan kepemudaan, mulai dari Taman Siswa bentukan Ki Hajar Dewantara, Budi Utomo bentukan Dr. Sutomo, sampai Sarekat Islam yang dibentuk oleh H.O.S Tjokroaminoto.

Seiring berjalannya waktu, Ki Hajar Harjo Utomo selama perjalanan pergerakan melawan penjajah pun tak luput dari kejaran kaum kolonial, bahkan mendekam di sel penjara Belanda. Namun, hal ini tidak mengurangi semangat juang beliau, di mana semangat juang inilah yang menjadi warisan kita semua para warga PSHT untuk dapat meneruskan kiprah perjuangan dalam membangun bangsa hari ini.

WADAH PERGERAKAN MENUJU ORGANISASI MODERN

Baca Juga  Assosiasi Pewarta Pers Indonesia Mengutuk Keras Tindakan Arogan Pejabat Dinas Pertanian Deli Serdang, Tuntut Bupati Bertindak Tegas!

Sebelum meninggal pada April 1952, Ki Hajar Harjo Utomo berpesan, yakni “Kumpulkan Sedulur Tunggal Kecer, Buatlah Wadah Yang Kuat, Lestarikan Ajaranku.” Di mana pesan beliau ini masih bisa kita temukan di tempat peristirahatan terakhirnya, di Desa Pilangbango, Madiun.

Bicara “Buatlah Wadah Yang Kuat”, kemudian pada 25 Maret 1951, di kediaman salah satu anggota saat itu, Santoso Kartoatmojo, Jl. Dr Sutomo Nomor 76, Madiun, kemudian wadah perjuangan melawan penjajah tersebut diorganisasikan, hingga menjadi organisasi PSHT yang kita kenal sekarang, lengkap dengan Anggaran Dasar sebagai landasan utama organisasi tahun 1951 yang hanya memiliki 12 Pasal.

Hal ini menandai babak baru PSHT sebagai organisasi modern, dan dinamis yang berkembang sesuai zaman. Sehingga PSHT punya kaitan erat antara semangat perjuangan yang diwariskan, dengan momen hari pendidikan.

SEJARAH HARI PENDIDIKAN : SEBAGAI PENDIDIK DAN TELADAN

Hardiknas juga tidak lepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara, salah satu tokoh pelopor pendidikan di Indonesia. Atas dasar inilah, kemudian pemerintah resmi menetapkan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959.

Tanggal 2 Mei dipilih karena bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, sang Bapak Pendidikan Nasional. sebagai pejuang pendidikan, Ki Hajar Dewantara memperjuangkan hak belajar bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang status sosial.

Pada masa penjajahan Belanda, beliau (Ki Hajar Dewantara) mendirikan Taman Siswa pada Juli 1922, sebuah lembaga pendidikan yang membuka akses bagi seluruh kalangan.

Filosofi pendidikannya, “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani,” yang berarti “Di Depan Memberi Teladan, Di Tengah Membangun Semangat, Di Belakang Memberi Dorongan.” bahkan menjadi pedoman pendidikan nasional sampai sekarang.

Baca Juga  Bupati AEP Syaepuloh Pimpin Briefing Staf Usai Melepas Peserta Magang ke Jepang

Di PSHT, hal ini relevan dengan pendidikan yang berjalan, dengan mengusung konsep dalam balutan persaudaraan, baik antara siswa dan pelatih, hingga murid dan guru dengan nuansa kekeluargaan.

ALAT PERJUANGAN : BELA DIRI SAMPAI TULISAN

Sebelum aktif berorganisasi dan berjuang, Ki Hajar Harjo Utomo juga sempat sebagai pemagang guru di Sekolah Dasar (SD) Benteng Madiun.

Kemudian, beliau beralih profesi bekerja di perusahaan kereta api (PJKA masa Hindia Belanda) di berbagai wilayah di Jawa Timur, Gelar Ki Hajar yang disematkan pada namanya bukanlah gelar guru sekolah biasa, melainkan gelar yang diberi oleh para muridnya sebagai bentuk penghormatan atas jasanya sebagai guru, bahkan tokoh perintis kemerdekaan yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat, serta berbagai kontribusi lainnya.

Selain pencak silat sebagai alat perjuangan, Ki Hajar Harjo Utomo juga aktif menulis dan berprofesi sebagai wartawan. Hal ini dibuktikan lewat buletin berjudul “Keinsjafan Rakjat” di masa kolonial terbit tahun 1932, berisikan ajakan untuk para pemuda membangun kesadaran agar jangan mau dijajah.

Dari bela diri sampai tulisan, Ki Hajar Harjo Utomo terus mengajarkan kita semua tentang betapa pentingnya pendidikan, tidak heran jika kemudian dalam salah satu pesan yang ia sampaikan yakni membuat wadah yang kuat.

Atas berbagai kiprah inilah, Hajar Harjon Utomo lalu juga dikenal sebagai salah satu Pahlawan Perintis Kemerdekaan RI yang gigih melawan penjajah. Sehingga di momen Hari Pendidikan ini, penting bagi kita untuk meneladani berbagai jasa yang telah beliau curahkan untuk Indonesia.

PSHT : LEMBAGA PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT

Ketua Umum PSHT, Dr. Ir. Muhammad Taufiq SH. M.Sc mengatakan, dalam momen hari pendidikan ini oeganisasi membawa pesan yang sangat penting, khususnya warisan semangat dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo.

Baca Juga  *Penyaluran BBM Subsidi Diperketat: Ini Daftar Kendaraan yang Berhak dan Sanksi Bagi Pelanggar*

“Kita harus kembali menegaskan bahwa SH Terate merupakan lembaga pendidikan sepanjang hayat.” Tegas Ketua Umum.

“Tujuan utamanya menumbuhkan keinsyafan atau kesadaran terhadap potensi diri yang diamanahkan Allah SWT agar mempunyai keyakinan diri dan keberanian menjadi bangsa yang merdeka.” Tambahnya.

Karena PSHT juga bergerak di pendidikan melalui olahraga pencak silat, maka besar harapan organisasi ini dapat mengajak bangsa indonesia untuk lebih maju, dan berintegritas.

“Kita harus mampu menjadi bangsa yang memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan.” Tandas Ketua Umum.

(Maspri)


Spread the love

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *