ElangmasNews.com, Banten – Menelisik sejarah pembangunan Candi Borobudur beranjak dari gagasan awal Raja Wisnu atau Daranindra untuk mewujudkan “Peta Perjalanan Manusia” sehingga konsepnya meliputi Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu, tidak mengutamakan kemegahan, karena yang utama untuk membimbing perjalanan hidup manusia di bumi. Karena itu, Candi Borobudur dan Candi lainnya — termasuk Cindi yang ada di Muara Jambi dan Muara Takus, Sumatra itu pantas dan patut untuk dijadikan obyek ziarah spiritual yang sakral untuk mendapat inspirasi dan semangat hidup yang lebih produktif dan mendatangkan banyak manfaat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang banyak. Sabtu 1Agustus 2026.
Syahdan, secara politik dan spiritual tujuan dari Syailendra membangun Candi Borobudur pada masa itu membangun kebersamaan, kekompakan, loyalitas, pengabdian dengan cara melibatkan banyak orang, mulai dari Raja dan petingginya, Bhiku dan pemuka agama serta ribuan rakyat yang terlibat dalam mencari baru, mengukir dan membawanya ke lokasi Candi Borobudur dalam satu rasa kebersamaan dan pengabdian bagi kerajaan sebagai penata pemerintahan dan kehidupan bersama seluruh rakyat. Begitulah, tata pemerintahan pada masa Syailendra memperkuat negara dan membangun semangat perjuangan bersama. Sehingga negara kuat, dan rakyat pun bermoral yang dirintis dari tradisi dan budaya kebersamaan untuk hidup harmonis.
Kamadhatu, simbol dari nafsu manusia,
Rupadhatu gambaran dunia yang kasat mata, dan Arupadhatu dunia tanpa bentuk seperti tercerminkan pada 72 stupa kosong dan satu stupa puncak sebagai wujud dari pelepasan ego dan hawa nafsu — pengosongan diri — untuk mencapai Nibbata, sebagai jalan spiritual bagi manusia. Jadi ada legitimasi politik yang bijak yang dilakukan berdasarkan peta spiritual membersihkan diri dari semua perkataan dan perbuatan serta perilaku yang tidak terpuji.
Agak ya, begitulah perwujudan dari Candi yang ada di Nusantara ini hampir berusia 1.300 tahun tetap abadi dan memberi pertanda dari kejayaan masa silam suku bangsa Nusantara yang kini telah menjadi Indonesia. Jadi bolehlah disebut bangunan Candi Borobudur, Prambanan Muara Takus dan Candi Muara Jambi itu semacam blueprint negera untuk suku bangsa Nusantara yang masih relevan untuk dijadikan acuan sampai hari ini, dimana nilai-nilai spiritual yang sakral bisa menjadi petunjuk jalan yang lurus, tak khianat, tak kemaruk, tidak tamak dan rakus seperti yang sangat mengancam keambrukan negeri ini.
Sebab hakekat kemerdekaan yang sejati itu adalah, bebas dari kemiskinan, bebas dari kebodohan, bebas dari ketakutan, dan bebas dari ancaman masa depan yang gelap dari penerangan tarif listrik yang mahal — tidak disubsidi — rekening air dan kebutuhan bahan pangan pokok yang terasa terus mencekik.
Red







