Delapan Bulan Pascabencana, Hutanabolon Kembali Diterjang Banjir! Warga Pertanyakan Keseriusan Pemkab Tapanuli Tengah, Solusi Dinilai Tak Kunjung Terlihat

Delapan Bulan Pascabencana, Hutanabolon Kembali Diterjang Banjir! Warga Pertanyakan Keseriusan Pemkab Tapanuli Tengah, Solusi Dinilai Tak Kunjung Terlihat
Spread the love

TAPANULI TENGAH, 18 Juli 2026 –Elangmasnews.com)Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Tapanuli Tengah pada Sabtu (18/7/2026) sekitar pukul 15.30 WIB kembali menyebabkan banjir di kawasan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Air yang meluap kembali menggenangi permukiman warga, mengulang peristiwa yang selama ini berulang setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi.

Bagi masyarakat Hutanabolon, banjir bukan lagi sekadar bencana musiman. Peristiwa ini telah menjadi persoalan yang terus menghantui kehidupan mereka. Setiap kali langit mulai gelap dan hujan turun deras, rasa cemas langsung menyelimuti warga. Mereka harus bersiap menyelamatkan barang-barang berharga, memindahkan kendaraan, hingga mengungsikan anak-anak dan lansia apabila debit air terus meningkat.Banjir yang kembali terjadi pada Sabtu sore menjadi pukulan bagi masyarakat yang selama ini berharap pemerintah daerah mampu menghadirkan solusi nyata. Harapan agar bencana serupa tidak kembali terulang kini berubah menjadi kekecewaan karena hingga sekitar delapan bulan pascabencana besar yang melanda Kecamatan Tukka, persoalan banjir dinilai belum tertangani secara maksimal.

Masyarakat menilai salah satu langkah yang seharusnya menjadi prioritas adalah normalisasi sungai, pembersihan alur sungai dari sedimentasi, serta pembenahan sistem drainase yang selama ini dianggap tidak mampu menampung debit air saat hujan deras. Menurut mereka, tanpa langkah tersebut, banjir akan terus menjadi ancaman bagi warga setiap musim penghujan.

Seorang warga Hutanabolon yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku kecewa karena hingga kini belum melihat perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Sudah delapan bulan kami menunggu. Setiap hujan deras kami tetap menjadi korban. Kami berharap pemerintah menjadikan penanganan banjir sebagai prioritas utama karena ini menyangkut keselamatan masyarakat. Yang kami tunggu adalah hasil nyata di lapangan,” ujarnya.

Baca Juga  Diduga Janggal, Anggaran Ketahanan Pangan Rp117 Juta Desa Sitio-Tio Hilir Jadi Sorotan; Kepala Desa Klaim Tuntas, Temuan Lapangan Dipertanyakan

Menurut warga tersebut, masyarakat tidak membutuhkan janji yang terus diulang, tetapi membutuhkan langkah konkret yang dapat mengurangi risiko banjir. Ia berharap pemerintah mempercepat normalisasi sungai, memperbaiki drainase, serta memperkuat infrastruktur pengendalian banjir.

Warga juga menilai kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial tidak akan mampu menjawab persoalan utama yang mereka hadapi. Menurut mereka, program penghijauan memiliki manfaat jangka panjang, namun di sisi lain masyarakat juga membutuhkan penyelesaian terhadap persoalan yang mendesak, yakni banjir yang terus berulang.
“Kami tidak menolak program penghijauan. Tetapi ketika rumah warga masih terendam setiap hujan deras, tentu masyarakat berharap penanganan banjir menjadi fokus utama pemerintah,” kata warga tersebut.

Selain persoalan infrastruktur, masyarakat juga meminta adanya transparansi mengenai program penanganan banjir, penggunaan anggaran, serta perkembangan pekerjaan yang telah dilakukan pemerintah daerah. Menurut mereka, keterbukaan informasi merupakan bagian dari akuntabilitas kepada publik yang setiap tahun harus menghadapi dampak banjir.

Kembalinya banjir di Hutanabolon juga memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai efektivitas langkah-langkah mitigasi bencana yang telah dijalankan selama ini. Warga berharap evaluasi dilakukan secara menyeluruh agar program yang disusun benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.

Banjir bukan hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Banyak warga mengaku harus membersihkan rumah berkali-kali setiap kali banjir datang, sementara sebagian lainnya khawatir terhadap risiko penyakit yang muncul akibat genangan air.

Masyarakat berharap pemerintah tidak menunggu banjir berikutnya untuk bertindak. Penanganan yang cepat, terukur, dan berkelanjutan dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar Hutanabolon tidak terus menjadi langganan banjir setiap musim hujan.

Peristiwa yang kembali terjadi pada Sabtu sore ini menjadi pengingat bahwa penanganan banjir di Hutanabolon masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah. Publik tentu akan terus mengawasi sejauh mana pemerintah mampu menjawab harapan masyarakat melalui kebijakan yang nyata dan dapat diukur hasilnya.

Baca Juga  Bungkam Saat Dikonfirmasi, Kepala Desa Lobu Tua Didesak Jelaskan Penggunaan Dana Rp1,08 Miliar

Hingga berita ini diterbitkan, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah belum memberikan keterangan resmi terkait banjir yang kembali merendam Hutanabolon. Media ini membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada Bupati Tapanuli Tengah maupun instansi terkait untuk memberikan penjelasan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

(Hasanuddin)


Spread the love

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *