Lamongan-Elangmasnews.com-Pada 25 Maret 1951, salah seorang murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang bernama Soeratno Sorengpati mengusulkan penggantian nama SH PSC menjadi Setia Hati Terate.
Pada era kepemimpinan SH Terate oleh Kangmas Soetomo Mangkoedjojo (1965 – 1974) terjadi ukiran sejarah PSHT yang berkaitan dengan penciptaan lambang perguruan.
Menurut kedua putra Mas Santoso Kartoatmodjo (Ketua SH Terate sebelum Mas Soetomo) yakni Subandrio Hervin Ismoko (Mas Hervin) dan Bambang Suwignyo Dibyomartono (Mas Suwignyo), pencipta awal lambang SH Terate adalah Ibu Ester Sumini/Ny. Santoso. Logo lama berbentuk perisai sempat digunakan oleh warga SH Terate hingga tahun 1972. Bahkan ada beberapa siswa PSHT yang masih menggunakan logo lama tersebut hingga disahkan jadi warga tahun 1976.
Hingga terjadi kolaborasi kerjasama untuk sempurnakan lambang SH Terate, memasukkan unsur Persaudaraan antara Ibu Ester Sumini dengan Mas Badini, dan Mas Soesanto (Kakak Mas Soewignyo Dibyomartono).
Ketiga tokoh tersebut memegang peran yang sangat krusial dalam tahap eksekusi artistik dan perwujudan fisik pertama kali dari lambang PSHT menjadi karya visual lukisan lambang dan wujud sulam/bordir tangan yang nyata:
( / )
a. Peran: Menerjemahkan dawuh, visi batin, dan konsep filosofis dari Mas Soetomo Mangkoedjojo ke dalam bidang visual rupa.
b. Kontribusi Nyata: Mas Badini adalah seorang seniman lukis/perupa berbakat di Madiun yang juga merupakan warga SH Terate. Di bawah arahan dan bimbingan Mas Soetomo, Mas Badini membuat sketsa dan melukis lambang PSHT untuk pertama kalinya di atas kertas/kanvas.
c. Detail proporsi—mulai dari bentuk jantung/hati bersinar, kuntum teratai (mekar, setengah mekar, kuncup), jajaran senjata tradisional, hingga garis batas putih-hitam—secara artistik lahir dari goresan kuas Mas Badini. Karya lukisan inilah yang menjadi cikal bakal dokumen “Persaudaraan Setia Hati Terate + Lukisan”.
( )
a. Peran: Pengadaptasi desain lukisan ke bentuk pola kerja kerajinan (pattern maker).
b. Kontribusi Nyata: Karya lukisan tangan Mas Badini sangat indah di atas kertas, tetapi untuk bisa diaplikasikan menjadi badge atau emblem kain pada baju seragam (sakral), gambar tersebut membutuhkan pola teknik bordir/sulam.
c. Mas Soesanto (putra sulung keluarga Santoso, kakak dari Mas Soewignyo Dibyomartono) bertindak sebagai perancang pola teknis. Beliau menyalin, mengukur, dan memindahkan proporsi lukisan Mas Badini ke dalam bentuk sketsa pola kain (patrun) agar dapat dikerjakan secara presisi dengan jarum dan benang.
( / )
a. Peran: Eksekutor fisik pertama yang mewujudkan lambang PSHT ke atas media kain.
b. Kontribusi Nyata: Ibu Ester Sumini (ibunda dari Mas Soesanto dan Mas Soewignyo Dibyomartono) adalah perajin sulam/bordir tangan yang sangat terampil di Madiun pada masanya. Berbekal pola kain yang disiapkan oleh Mas Soesanto dari gambar Mas Badini, Ny. Santoso adalah orang pertama dalam sejarah yang menyulam lambang PSHT dengan benang ke atas kain sakral.
c. Pekerjaan ini dilakukan secara manual dengan tangan (hand-embroidered), helai demi helai benang disesuaikan dengan warna-warna sakral ajaran (putih, merah, kuning, hijau, dan hitam). Dari jemari beliaulah wujud fisik badge dada pertama PSHT tercipta sebelum akhirnya diproduksi secara massal pada era-era berikutnya.
Rantai kerja sama antara Mas Badini, Mas Soesanto, dan Ibu Ester Sumini/Ny. Santoso membuktikan fakta sejarah yang tak terbantahkan:
“Lambang Persaudaraan Setia Hati Terate adalah karya gotong royong dan pusaka kolektif organisasi.”
Lambang ini bukan gambar instan yang dibuat oleh satu orang untuk kepentingan pribadi, melainkan lahir dari perpaduan laku batin sesepuh, sentuhan seni juru lukis, dan ketulusan keringat keluarga warga berjiwa seni di Madiun untuk keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate di seluruh dunia.
Publikasi
Oleh Tim Humas PSHT
M SUPRIYONO
Kacab Lamongan

