ElangMasNews.Com, OKU Timur – Jeritan petani menggema di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Kehadiran PT Agrinas Pangan Nusantara, perusahaan milik BUMN, justru memicu polemik dan diduga menekan kehidupan petani di Kecamatan Martapura dan Bunga Mayang.

Sejumlah petani di Desa Tanjung Kemala Barat, Dusun Talang Sipin, serta Desa Peracak dan sekitarnya mengaku tidak lagi merasakan kemandirian dalam mengelola lahan. Mereka menilai kebijakan perusahaan telah mengubah sistem pertanian yang sebelumnya berjalan baik namun semuanya ini adalah bohong
Masalah ini mencuat sejak akhir Desember 2025, saat pengelolaan lahan yang sebelumnya berada di bawah program TNI Manunggal dialihkan kepada PT Agrinas Pangan Nusantara. Pengalihan tersebut diduga dilakukan tanpa sosialisasi menyeluruh kepada petani,kami mohon bubarkan PT AGRINAS PANGAN NUSANTARA yang ada di Oku Timur sumatera selatan ( keluh masyarakat).

Padahal, sebelumnya para petani mengaku terbantu dengan program tersebut, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun akses pengelolaan lahan. Kini, kondisi itu berbalik menjadi tekanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Jalan kami rusak oleh alat berat milik AGRINAS, sementara alat kami tidak boleh di pakai alias beroperasi, semua dari pihak Agrinas, alat kami ngangur.
“Saat Agrinas masuk, kami hanya diberi tahu bahwa lahan ini sudah dikelola mereka. Tidak ada penjelasan soal hak kami. Kami seperti dipaksa mengikuti aturan,” ujar Kurdi (55), petani di Dusun Talang Sipin.kami menyadari bahwasanya kami betul menyewa akan tetapi selama ini hidup kami sejahtera dan nyaman.
Puncak kekecewaan terjadi saat musim panen. Petani diwajibkan menjual seluruh hasil panen kepada perusahaan dengan harga Rp2.500 per kilogram, angka yang dinilai jauh di bawah harga wajar,dan kami tidak boleh membawa hasil kami untuk kebutuhan sehari-hari kami.
Tidak hanya itu, petani juga mengaku tidak diperbolehkan menyimpan gabah untuk kebutuhan keluarga. Kondisi ini dinilai sebagai kebijakan yang tidak manusiawi dan berpotensi memicu krisis pangan di tingkat rumah tangga,kami berharap kepada pemerintah kami mohon atas kebijakan nya kami tidak bisa lagi membayar cicilan kredit kami,dengan adanya cara seperti ini.
Ironisnya, di saat harga gabah ditekan, petani justru harus membeli beras dengan harga tinggi di pasaran, yakni mencapai Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram. Kesenjangan ini memicu kemarahan dan kekecewaan mendalam,modal awal kami sampai saat ini tidak di ganti,sedangkan janji dari awal semuanya akan di ganti, ternyata itu semua bohooong !!.
Di sisi lain, biaya produksi yang harus ditanggung petani tidak sedikit. Untuk satu hektare lahan, biaya dapat mencapai Rp45 juta, sementara penggantian dari perusahaan disebut tidak mencakup seluruh komponen biaya.
Petani juga mempertanyakan kebijakan perusahaan yang menguasai lahan produktif yang telah mereka garap selama bertahun-tahun. Mereka menilai seharusnya perusahaan membuka lahan baru, bukan mengambil alih lahan yang sudah hidup.

Gelombang protes kemudian dibawa ke DPRD OKU Timur.
Alhamdulillah di sambut dengan baik dan ramah tamah oleh bapak Anggota dewan dan bapak ketua DPRD kabupaten Ogan Komering ulu Timur ( okut) Perwakilan petani, seperti Bambang, Daryanto, Prasojo, Heru Prasetia, Jumiron, Sulin, dan Misman, secara tegas menyatakan penolakan terhadap kebijakan PT Agrinas.
Mereka mendesak pemerintah pusat, khususnya Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk turun langsung ke lapangan. Petani berharap ada tindakan tegas dan solusi nyata agar mereka tidak terus berada dalam tekanan yang berkepanjangan.untuk apa kehadiran AGRINAS di Oku Timur, kalu hanya menyengsarakan dan tidak ada kentungan bagi masyarakat Oku Timur.
Jurnalis:(M.TOHIR).
Bersama:(Tim-investigasi)
“*EMN.TIM/ RED*”.












