HAUL KI BUYUT LAWI DESA JAYAMUKTI KE 31 TAHUN BERLANGSUNG KHIDMAT, WARGA GELAR SEDEKAH BUMI DAN WAYANG KULIT
JAYAMUKTI, SUBANG- Elangmasnews.com Ratusan warga memadati Dusun Tegaltangkil, Desa Jayamukti, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Minggu 12 Juli 2026. Mereka hadir dalam Haul Ki Buyut Lawi, tradisi tahunan ini untuk menghormati leluhur sekaligus tokoh penyebar Islam di pesisir utara Subang.
Haul tahun ini diisi rangkaian kegiatan sosial dan budaya yang digelar swadaya oleh masyarakat Desa Jayamukti dengan rangkaian Acara :
Kirab Budaya yang dilaksanakan mulai pukul 13.00 Wib s/d Selesai
Sunatan Massal Gratis dilaksanakan pukul 08 00 Wib. yang diikuti sebanyak 3 anak.
Baritan / Sedekah Bumi dilaksanakan pada pukul 15.00 Wib s/d selesai.
Malam puncak haul ditutup dengan pagelaran wayang kulit ” LANGEN KUSUMA PUTRA ” oleh Ki Dalang H.RUSMANTO dari Celeng, Lohbener, Indramayu, dengan Sinden ternama HJ. IWI. S dan NUNUNG ALVI
Sehari sebelum acara puncak dilaksanakan, tepatnya tanggal 11 Juli 2026 pukul : 20.00 Wib Panitia telah menggelar Istighosah Akbar, Pengajian dan do’a bersama di Makam Keramat Buyut Lawi.
SEJARAH ASAL USUL KI BUYUT LAWI :
Sosok Ki Buyut Lawi :
Ki Buyut Lawi diyakini masyarakat sebagai Raden Arya Jaya Kusuma, ulama sekaligus prajurit Mataram dari Pasukan Selawe yang dikirim Sultan Agung Hanyakrakusuma saat penyerangan ke Batavia 1628-1629.
Setelah perahunya hancur diserang VOC, beliau mendarat di pesisir Blanakan dan menyebarkan Islam di wilayah Subang utara.
Buyut Lawi adalah tokoh leluhur yang dituakan dan dihormati masyarakat Desa Jayamukti, Kec. Blanakan, Kab. Subang. Sebutan “Ki Buyut” dipakai untuk leluhur yang dituakan, sedangkan “Lawi” jadi penanda khas beliau.
Makam beliau berada di Dusun Tegaltangkil, Desa Jayamukti, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, dan hingga kini ramai diziarahi warga dari dalam maupun luar daerah, terutama bulan Rabiul Awal dan Maulid.
Warga menyebut beliau sebagai _“paku bumi sohibul wilayah”_ Desa Tegaltangkil. Makamnya hingga kini jadi tujuan ziarah, terutama bulan Rabiul Awal dan Maulid.
Asal-Usul Dan Perjalanan Hidup :
Menurut juru kunci makam, nama “Lawi” berasal dari kata “Selawe”, yaitu sebutan untuk Pasukan Dua Puluh Lima yang dikirim Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram dalam ekspedisi penyerangan ke Batavia tahun 1628–1629.
Dikisahkan, salah satu pemimpin pasukan itu adalah Raden Arya Jaya Kusuma, ulama sekaligus prajurit tangguh. Dalam pertempuran melawan VOC, perahunya hancur diserang. Beliau bersama beberapa pengikut selamat dan mendarat di pesisir utara, tepatnya di wilayah Blanakan, Subang.
Peran di Jayamukti :
1.Penyebar Islam: Ki Buyut Lawi diyakini hidup pada masa awal penyebaran Islam di pesisir utara Jawa Barat. Beliau bagian dari mata rantai dakwah Islam di Subang utara, yang terhubung dengan tokoh-tokoh penyebar Islam di Karawang, Indramayu, hingga Cirebon.
2.Tokoh Spiritual dan Sosial : Selain ulama, beliau dikenal sebagai sosok bijak yang jadi penengah berbagai persoalan sosial masyarakat.
3.Paku Bumi Sohibul Wilayah : Warga menyebut beliau sebagai “paku bumi sohibul wilayah” Desa Tegaltangkil – artinya tokoh penjaga/penguat spiritual wilayah.
4.Tradisi Haul dan Ziarah: Setiap tahun warga menggelar *Haul Buyut Lawi* dengan pengajian akbar, menghadirkan ulama dari berbagai daerah, dan dihadiri ribuan jamaah.
Ziarah ke makamnya tidak hanya bernuansa religius, tapi juga jadi simbol penghormatan terhadap sejarah dan asal-usul Desa Jayamukti. Ramai terutama jelang/lepas Idul Fitri dan Idul Adha.
5.Status Makam: Makam Keramat Buyut Lawi berpotensi jadi cagar budaya. Camat Blanakan bersama beberapa Kades pernah tawasulan di sana mewakili Bupati Subang, menyebut Ki Buyut Lawi sebagai “panglima pasukan yang gagah berani berjuang dalam menyebarkan Agama Islam”.
Tokoh Masyarakat menyampaikan, Haul Buyut Lawi adalah ikhtiar merawat sejarah dan meneladani akhlak leluhur.
“Bukan sekadar ziarah, tapi ada bakti sosial dan budaya. Ini bukti gotong royong warga Jayamukti masih kuat,” ujar Kasan
Tradisi haul ini juga mempertegas posisi Makam Keramat Buyut Lawi sebagai situs sejarah lokal yang berpotensi jadi cagar budaya Kabupaten Subang.
Catatan: Kisah ini bersumber dari tradisi lisan masyarakat Jayamukti dan keterangan juru kunci makam. Belum ada catatan tertulis resmi masa Mataram, tapi sudah jadi bagian sejarah lokal yang dirawat turun-temurun.
(H.Ahmad Junaedi/Nana)











