Pasar Rakyat Marisa Sepi Usai Penertiban Tambang, Pedagang Keluhkan Omzet Anjlok

Pasar Rakyat Marisa Sepi Usai Penertiban Tambang, Pedagang Keluhkan Omzet Anjlok
Spread the love

Elangmasnews.com,Pohuwato – Aktivitas ekonomi di Pasar Rakyat Marisa mengalami penurunan signifikan usai penertiban aktivitas pertambangan di wilayah Kabupaten Pohuwato. Sejumlah pedagang mengeluhkan sepinya pembeli dalam beberapa hari terakhir, yang berdampak langsung pada anjloknya omzet penjualan mereka.

Kondisi ini dikeluhkan para pedagang karena jumlah pembeli menurun drastis, berdampak langsung pada anjloknya omzet harian.

Sejumlah pedagang mengaku sejak penertiban tambang dilakukan, daya beli masyarakat melemah.

Salah satu pedagang rempah-rempah, Yul, mengaku kondisi sunyi sepi seperti ini sudah dirasakan sejak adanya penertiban aktivitas pertambangan.

“Sejak aktivitas pertambangan dorang (mereka) tertibkan, sangat berdampak skali pa torang (kami),” ujar Yul.

Jika sebelumnya pasar ramai sejak pagi hingga siang hari, kini banyak lapak yang tutup lebih awal karena minim pembeli.

“Biasanya jam sepuluh sudah ramai, sekarang sampai siang pun sepi,” keluh salah satu pedagang ditempat yang sama.

Menurut pedagang, aktivitas pertambangan selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi lokal.

Uang hasil tambang berputar di pasar, mulai dari kebutuhan pokok, perlengkapan rumah tangga, hingga biaya sekolah anak. Ketika tambang dihentikan, efeknya langsung terasa di pasar rakyat.

Tak hanya pedagang sembako, penurunan omzet juga dirasakan pedagang ikan, sayur, hingga pelaku usaha kecil di sekitar pasar.

Beberapa di antaranya mengaku pendapatan turun hingga lebih dari setengah dibandingkan hari-hari normal sebelum penertiban tambang.

Para pedagang berharap pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penertiban, tetapi juga memikirkan solusi ekonomi bagi masyarakat terdampak.

Mereka meminta adanya kebijakan yang berpihak pada kelangsungan hidup rakyat kecil agar roda perekonomian di Pasar Rakyat Marisa kembali berputar.

Salah satu pedagang rempah-rempah, Yul, mengaku kondisi sunyi sepi seperti ini sudah dirasakan sejak adanya penertiban aktivitas pertambangan.

Baca Juga  Pemerintah Desa Muara Bagikan BLT DD Kepada 54 Keluarga Penerima Manfaat.

“Penambang kalau beli rempah-rempah itu dorang beli banyak, sampe kiloan. Itu untuk kebutuhan dorang selama di lokasi tambang,” jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, pendapatannya dan sejumlah pedagang lainnya mengalami penurunan cukup signifikan. Yul memperkirakan omzet dagangannya saja turun hingga 40 sampai 50 persen.


Spread the love

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *