Elangmasnews.com, Medan – Praktik ilegal ini bukan sehari dua hari, melainkan diduga telah berjalan lebih dari 15 tahun, terang-terangan, seolah negara absen dan aparat kehilangan nyali.
Fakta di lapangan menunjukkan, rekaman video aktivitas judi telah viral di berbagai akun TikTok.
Tak hanya itu, bukti visual dan titik lokasi perjudian bahkan telah dikirim langsung kepada Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto melalui pesan WhatsApp.
Namun hasilnya nihil tak ada respons, tak ada penindakan, tak ada garis polisi.
Diamnya aparat ini memunculkan kecurigaan publik: siapa yang sebenarnya dilindungi? hukum atau bandar?
Hasil penelusuran awak media mengungkap, praktik judi togel tersebut diduga dikelola oleh seorang pria berinisial HSB. Aktivitasnya berjalan mulus, tanpa gangguan, memperkuat dugaan adanya perlindungan oknum di balik bisnis haram tersebut.
Seorang warga sekitar, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keselamatan, membeberkan pengakuan mencengangkan.
“Sudah 15 tahun togel itu buka, bang. Kami takut melapor. Katanya ada oknum yang membekingi. Kalau bukan kuat, mana mungkin bertahan selama itu,” ujar warga.
Pengakuan warga tersebut menjadi tamparan keras bagi aparat penegak hukum. Bagaimana mungkin praktik perjudian ilegal bisa bertahan belasan tahun di tengah klaim penegakan hukum dan pemberantasan penyakit masyarakat?
Situasi ini memperlihatkan wajah buram penegakan hukum di Sumatera Utara: bandar berjaya, warga dicekam ketakutan, hukum membisu. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka publik berhak bertanya: apakah hukum masih berfungsi, atau sudah kalah oleh jaringan judi?
Kapolda Sumut dan jajaran kini berada di bawah sorotan. Diam berarti pembiaran. Pembiaran berarti pengkhianatan terhadap hukum.
Red







