Madiun – Elangmasnews.com –
Sebuah pemandangan yang seharusnya membuat darah setiap anak bangsa mendidih tersaji di depan mata kita. Bukan di medan perang, bukan di tanah asing, melainkan di dalam acara sakral sebuah organisasi besar di negeri ini. Foto ini bukan sekadar dokumentasi kegiatan; ini adalah bukti visual dari kebobrokan mental dan arogansi yang sudah melampaui batas.
Lihatlah dengan seksama, dan biarkan rasa jijik merayap di dada Anda. Di sana, di puncak panggung kehormatan Parapatan Luhur (Parluh)
Mengatasnamakan PSHT tahun 2026—yang dilaksanakan oleh kubu Murjoko—terpampang sebuah dosa besar terhadap negara.
Lambang Negara Republik Indonesia, Garuda Pancasila yang agung, simbol kedaulatan dan tumpah darah para pahlawan, diperlakukan tak lebih dari sekadar hiasan dinding kelas dua.
Sungguh sebuah ironi yang teramat brutal dan memalukan! Garuda Sakti, yang di dadanya tersemat perisai Pancasila—dasar dari segala organisasi yang hidup di tanah air ini—justru diposisikan secara hina. Ia diletakkan di belakang, dan yang lebih fatal, sengaja ditutup separuh badannya oleh spanduk raksasa organisasi.
Apa pesan yang ingin disampaikan oleh panitia acara kubu ini? Apakah mereka ingin memproklamirkan bahwa panji organisasi mereka kini lebih tinggi derajatnya daripada lambang negara? Apakah ini sebuah pernyataan tersirat bahwa di dalam gedung itu, hukum dan kedaulatan organisasi berada di atas kedaulatan Republik Indonesia?
Ini bukan sekadar “kesalahan teknis pemasangan spanduk” atau ketidaksengajaan. Ini adalah bentuk penghinaan yang nyata, sebuah pelecehan simbolik yang vulgar terhadap negara.
Bagaimana mungkin sebuah organisasi yang selalu mendengungkan ajaran berbudi luhur, yang mengklaim mendidik manusia yang setia pada hati sanubari dan juga setia pada negara, justru melakukan tindakan yang begitu nista? Di mana letak “kesetiaan” itu ketika simbol negara yang paling utama justru dikerdilkan oleh ego sektoral?
Mereka berteriak tentang persaudaraan, namun di saat yang sama mereka menginjak-injak simbol pemersatu bangsa. Mereka berbicara tentang ajaran luhur, namun mempertontonkan kebodohan yang fatal dalam beretika bernegara.
Foto ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Ini adalah bukti betapa fanatisme organisasi yang buta telah menggerogoti jiwa nasionalisme. Ketika sebuah kelompok merasa begitu besar, begitu kuat, hingga mereka merasa berhak menempatkan atribut mereka di atas atribut negara, maka kita sedang berhadapan dengan benih-benih pembangkangan yang berbahaya.
Tindakan ini tidak bisa dan tidak boleh dimaklumi dengan alasan apapun. Ini adalah kesalahan fatal yang menuntut pertanggungjawaban moral dan hukum. Jika terhadap gambar mati Garuda saja mereka berani bersikap kurang ajar, bayangkan apa yang ada di dalam pikiran mereka tentang negara ini sebenarnya.
Sungguh menyedihkan. Sungguh memuakkan. Di bawah kubu Murjoko, Parluh 2026 ini telah mencatat sejarah hitam: Momen di mana Garuda dipaksa ‘kalah’ dan ‘bersembunyi’ malu di balik arogansi sebuah spanduk organisasi. Nasionalisme macam apa yang sedang kalian pertontonkan?!
(Maspri)







