Elangmasnews.com – Banten 15 Februari 2026 Puasa pada bulan ramadhan bagi umat Islam hukumnya wajib, seperti termuat dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 183. Selebihnya puasa sunnah — tidak wajib — seperti puasa Arafah pada 9 Dzulhijah, puasa Asyura pada 10 Muharram, puasa Senin-Kamis, piasa rutin setiap bulan pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulsn Hijriyah dan puasa 6 hari pada bulan Syawal, puasa Rajab dan puasa Syahban maupun puasa pada setiat tanggal atau hari kelahiran sebagai wujud dari rasa syukur terhadap semua nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT dalam berbagai bentuk yang diwujudkan untuk diri sendiri maupun terhadap anggota keluarga lainhya.
Puasa sunnah sebagai bentuk rasa syukur pun dapat dilakukan seperti cara Nabi Daud — sehari puasa sehari tidak — terus dilakukan untuk mencapai maksud semacam pengaturan lalu lintas dengan cara ganjil dan genap di Jakarta agar tidak macet dan nengurai kepadatan lalu lintas di jalan raya.
Adapun keutamaan puasa ala Nabi ini menurut guru ngaji saya dahulu di kanpung adakah unruk meningjatkan anak sholeh, mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kesabaran. Karena itu, puasa apapun namanya harus dilakukan dengan penuh ikhkas, tidak berlebihan dengan niat yang baik saat hendak memulai tahapan melakukan puasa yang diawali dengan niat, lalu menjalani prosesi puasa itu sendiri — puasa wajib maupun puasa sunnah — sesuai dengan keyakinan dan kepercayaann seperti diawali dengan padosan, tradisi mandi, zuarah kubur dengan membersihkan serta memperindah makam keluarga, bahjan acap disertai dengan menyediakan beragam macam makanan serta minuman yang enak dan segar, baik untuk di rumah maupun untuk dibagikan lewat masigit terdekat yang ada di sekitar tempat tinggal.
Puasa menjadi wajib dilakuksn pada bulan ramadhan, kecuali merupakan perintah langsung dari Allah hingga menjadi salah satu rukun dalam Islam, juga menandai saat turunnya kitab suci Al Qur’anul Karim, juga saat pengampunan dosa dan melupatgandakan pahala, serta pelatihan dan pendidikan kesadaran spiritual untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan.
Bahkan dalam ibadah puasa — terutama yang wajib pada bulan ramadhan — untuk membanfun sikap solidaritas serta perhatian terhadap masyarakat miskin dan mereka yang belum beruntung, setidaknya untuk dapat ikut merasakan kesulitan dan kelaparan karena tidak mempunyai apa-apa untuk membeli makanan dan minuman. Jadi kewajiban menunsikan ibadhah puasa pada bulsn ramadhan untuk membangun kesadaran menjaga diri untuk tetap sehat secara lahir dan batin. Menjaga sikap dan sifat agar tetap hidup dalam kesederhanaan, ugahari dan bersahaja memiliki sikap dan sifat kepedulian kemanusiaan ysng tetap terjaga. Tidak tamak, tidak rakus dan tak hendak menggagahi hak orang lain.
Pendek kata, untuk menyambut bulan puasa yang diyakini penuh berkah hingga sangat diyakini merupakan bulan terbaik dari seribu bulan lainnya, umat Islam sangat terkesan seperti sedang berlomba melakukan kebaikan, membagi-bagikan makanan, pajaian dan peralatan sholat hingga bingkisan lebaran saat puasa ranadhan berakhir yang dianggap layak dan pantas untuk dirayakan semeriah dan sebahagia mungkin dengan pebuh kegembiraan setelah menunaikan ibadhah puasa ramadhan selama satu bulan pebuh tanpa terputus.
Bagi sebagian kaum sufi, puasa sunnah maupun puasa wajib pada bulan ramadhan acap dipahami dalam penfertoan yang sama — tal lagi wajib dan tak lagi sunnah — karena puasa bagi sebagian kaum sufi telah menjadi kebutuhan hidup bagi dirinya untuk terus hidup seperti tubuh yang perlu mendapat gizi dan protain yang harus dan perlu dikonsumsi agar iiwa dan bsthin tetap menyala memberi cahaya terang sebagai penerang makrokosmos dan mikrokosmos yang bersemayam disetiap bagian jasad.
Agaknya, begitulah mskna puasa bagi sebagian kaum sufi yang telah mampu mencapai maqom kedekatan yang relatif akrab dan asyik bersama Tuhan. Sehingga dialog dalam dimensi dan frekuensi spiritual yang tinggi dapat menjadi penuntun hidup serta kemampuan penerawangan masa depan yang tidak pernah terduga kebenarannya. Karena itu, para pelaku spiritual yang teguh dan taat, tidak perduli disebut sebagai dukun peramal maupun perilaku yang disebut klenik. Sebab laku yang dia jalankan sepenuhnya disadari kelak akan dia pertanggung jawabkan kepada Tuhan.
Red







