Banten – Elangmasnews.com –
Penyebab perilaku buruk manusia karena tidak mampu mengendalikan nafs — jiwa — untuk melawan bisikan hati agar tidak melakukan hal-hal yang buruk, meski tidak bisa berbuat baik. Namun idealnya manusia harus selalu berbuat baik, tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga terhadap dirinya sendiri.
Perilaku burik manusia itu pun bisa diaebabkan oleh pengaruh lingkungan keluarga, daerah setempat serta pergaulan sehari-hari yang membuatnya merasa enteng untuk melakukan perbuatan yang buruk hanya untuk menyenangkan — atau bahkan untuk memuaskan diri sendiri tanpa menimbang akivatnya bagi orang lain. Bahkan, dari lingkungan keluarga, lingkungan sekitarnya serta pergaulan dapat mempengaruhi sikap untuk berbuat buruk itu atas pengalaman hidup di masa lalu.
Namun yang pasti, perbuatan biruk yang dikakukan itu akibat pertahanan dan ketahanan iman — keyakinan kepada Tuhan yang dangkal, lemah hingga gampang goyah untuk melakukan hal-hal yang tercela dan melanggar etika dan moral sebagai basis pertahanan akhlak manusia yang sesungguhnya merupakan anugerah Tuhan. Katena Tuhan sendiri — sebagai pencipta manusia serta makhluk lainnya di bumi adalah khalifatullah, sebagai makhluk yang menperoleh otoritas menjadi wakil Tuhan untuk berbuat baik dan memberi manfaat sesama manusia serta makhluk lainnya maupun bagi alam semesta ini. Karena itu, relevansi dari perinrah Tuhan agar nanusia tidak membuat kerusakan — tidak hanya fisik — tetapi juga mental dan spiritual artiblnya harus senantiasa terjaga, tidak boleh disia-siakan sehingga tidak mendayangkan manfaat di jagat raya ini.
Kelemahan terhadap fungsi dan peran dari kecerdasan spiritual — tak hanya kecerdasan intektual yang dimiliki manusia memang akan sangat menentukan perilaku baik dan perilaku yang buruk, lantaran orientasi hidup telah terhebak dalam banyak hal yang bwrsidat duniawi, menjauh dari hal-hal yang bersufat ukhrowi. Karena itu, menghayati hal-hal yang bersifat ukhrowi sangat penting — sebagai bagian dari kualitas hidup yang lebih tinggi dan mulia — agar tidak terhebak dalam perangkap dunuawi yang selalu lebih mengutamakan materi.
Gejala dari hidup dan kehidupan yang diorientasikan pada duniawi di Indonesia, jejas semakin menjadi-jadi ketika adat istiadat serta tradisi warisan dari bara leluhur suku bangsa nusantara dibentur oleh budaya Barat yang nota bene kuat dan dominan menganut paham kapitalisme — yang terdefrensiasi dalam wujud materialisme hingga anak tirinannya yang bisa disebut neo liberal. Sehingga sikap individual yang menjadi wataj bawaannya menggusur sifat dan sikap gotong royong dan kekeluargaan dari suku bangsa nusantara yang nyaris tidak lagi ada sisanya sekarang ini.
Demikian juga pergeseran dari budaya dan tradisi agraris dan maritim suku bangsa nusantara yang kini terjebak di kawasan industri hingga melahirkan sosok buruh. Karena dalam budaya dan tradisi masyarakat agraris dan maritim di negeri nusantara ini semula sangat mandiri, tidak bergantung pada perintah dan kekuasaan majikan, sebagai oemiliki modal. Dan sikap mandiri para petani, nelayan suku bangsa nusantara yang sudah berlangsung secara turun temurun sejak jaman kerajaan tempo dulu itu, hanya mematuhi perintah rahmha dan ratu yang tidak zalim dan setia untuk melindungi dan menjaga harmoni hidup bersama rakyat. Sebab jika raja zalim, pasti akan disanggah. Sehingga raja pun tidak dapat hidup dan memerintah dengan cara semena-mena.
Lantas padanannya terkesan menjadi sangat abek, bila di jaman republik yang justru kebih modern — dan sepatutnya pun lebih beradab — kesan terhadap tatanan hidup dan kehidupan rakyat yang harmoni, justru seperti barang antik yang kangka. Semua pihak terkesan berlomba untuk memperkaya diri sendiri bahkan dalam menunaikan amanah rakyat pun tampak ugal-ugalan, tak perduli dengan perilakunya jahatnya yang mencederai dan menyengsengsarakan rakyat. Begituh sikap dan perilaku korup, khianat, ingkar janji dan tipu penipu yang semakin meresahkan di negeri kita ini sekarang.
Red






