Dewan Penasehat Spiritual DPP LSM ELANG MAS Jacob Ereste : Komitmen dan Konsistensi Sebagai Penakar Etika, Moral dan Akhlak Mulia Yang bersifat Ilahiyah

Dewan Penasehat Spiritual DPP LSM ELANG MAS Jacob Ereste : Komitmen dan Konsistensi Sebagai Penakar Etika, Moral dan Akhlak Mulia Yang bersifat Ilahiyah
Spread the love

BantenElangmasnews.com – Yang meninggalkan dan yang ditinggalkan mempunyai konsekuensi sendiri-sendiri. Bisa saja bentuknya dalam wujud kekecewaan, kemarahan atau kegembiraan karena mendaptkan sesuatu yang baru yang tidak bisa didapatkan dari posisi atau kondisi sebelumnya hingga dapat merasakan kenikmatan yang dirasa dapat lebih menyenangkan atau memberi kepuasan kendati sesungguhnya bersifat semu.

Bagi orang yang meninggalkan, pasti beranggapan bahwa mereka yang dia tinggalkan itu tidak bisa memberinya sesuatu yang dapat menyenangkan hatinya, sehingga dia harus berpaling ke tempat yang lain, tak kecuali musuhnya sekalipun yang sedang menjadi seteru hebat dengan dirinya.

Karena itu, dari pihak yang merasa ditinggalkan — terutama bagi mereka yang meninggalkan karena menyeberang kepada pihak musuh — memang dirasakan seperti telah dikhianati, atau dalam istilah yang sudah kuno di Indonesia dulu seperti ungkaan pepatah lama itu yang mengatakan “menggunting dalam lipatan”. Jadi memang sungguh tragis dan miris, persis semacam drama satire dalam stand up komedi Pandji Pragiwaksono yang mendapat aplaus tapi harus digiring ke ranah hukum yang tidak menentu iklimnya di negeri ini. Ibaratnya seperti hujan yang didakwa sebagai penyebab bencana, sementara ketika hujan tak kunjung turun pun, juga didakwa sebagai bencana pula, karena bisa menyebabkan kegersangan hidup dan kehidupan manusia di bumi.

Hujan yang datang dan pergi memang tidak cukup dilihat seperti kemarahan sungai yang geram menggelontorkan setumpukan kayu hasil jarahan yang merusak lahan dan pemukinan warga masyarakat setempat yang sesubgguhnya tidak pernah ikut menikmati hasil dari pemalakan itu, tetapi harus menanggung dera dan derita yang ditinggalkannya. Meski sudah ada prsan dan dari langit, bahwa dera dan kesedihan harus ditanggung oleh orang banyak. Diantaranta adalah keluarga kita juga. Jadi untuk mereka yang jauh dari lokasi jauh dari sumber bencana itu sendiri — seperti nama sebuah kampung di Kota Solo itu — seakan sedang berebut perhatian publik, persis seperti penghisapan isi perut Ibu Pertiwi — hingga usaha pertambangan pun lebih parah menciptakan pertarungan untung dan nasib dalam beragam bentuk pertaruhan yang lebih sengit dan besar resikonya.

Baca Juga  Bhabinkamtibmas Jadi Irup di Upacara Rutin Senin di SMP Negeri 8 OKU

Orang meninggalkan kampung halaman pun, sesungguhnya ingin menikmati suasa dengan segenap pernik-melik kenikmatan yang telah terbayang indah dan enak dipelupuk mata. Kendati semua kenikmatan itu hanya semu belaka. Apalagi sekedar untuk dapat dianggap lebih kaya dari mereka yang lain, walau realitasnya pelit setengah mati. Artinya, pengertian tentang sosok orang kaya sesubgguhnya yang tidak pelit itu, tidak masuk dalam pemahaman filisofis yang paling esensial sifatnya. Karena kekayaan yang dia peroleh itu cuma untuk menggagahi orang lain yang selalu dia anggap lebih miskin dari dirinya.

Pada persilangan budaya keluhur serupa inikah, sikap ugahari dan rendah hati itu telah terbawa arus kepitalisme yang tidak hanya berwatak individual, tapi juga abai terhadap ikatan kebersamaan, gotong royong dan kekeluargaa. Sehingga seluruh nilai-nilai spiritual tak hanya bergesar, tetapi telah dicampakkan ke keranjang sampah. Akibatnya, etika, moral dan akhlak mulia dijadikan komoditi untuk diperjual-belikan.

Perilaku khianat, tipu menipu dan berbohong hingga ingkar janji — seperti pejabat publik yang telah disumpah atas nama Tuhan, sekedar formalitas belaja guna memenuhi prosedur pelantikan yang sudah memendam dendam untuk sesegera mungkin menjadi kaya raya dengan berbagai upaya, hingga dana untuk ibadhah haji pun ditilep. Apalagi hanya sekedar komitmen dalam sebuah etos perjuangan untuk rakyat atau demi dan untuk orang banyak.

Agaknya, begitulah komitmen dan konsistensi setiap orang dapat menjadi penakar etika, moral dan akhlak mulia kemanusiaannya yang paling hakiki, karena bersifat ilahiyah.

Red


Spread the love

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *