Zepriyanto Muda Kritik RSUD Iwan Bokings: Klarifikasi Tak Bisa Gantikan Nyawa

Zepriyanto Muda Kritik RSUD Iwan Bokings: Klarifikasi Tak Bisa Gantikan Nyawa
Spread the love

Elangmasnews.com, Kabupaten Boalemo – Zepriyanto Muda, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Ichsan Boalemo, melontarkan kritik tajam terhadap pihak RSUD Iwan Bokings terkait klarifikasi yang disampaikan atas insiden yang berujung pada hilangnya nyawa pasien.

Menurutnya, pernyataan resmi rumah sakit tersebut belum mampu menjawab substansi persoalan yang terjadi di lapangan.

“Ketika sebuah nyawa melayang, publik tidak butuh sekadar klarifikasi formal yang terkesan normatif. Yang dibutuhkan adalah transparansi total dan tanggung jawab moral. Jangan berlindung di balik istilah ‘penanganan sudah optimal’ jika fakta di lapangan masih menyisakan tanda tanya besar,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa klarifikasi tidak cukup jika tidak diiringi dengan tanggung jawab nyata, evaluasi menyeluruh, serta langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Zepriyanto juga menyoroti pentingnya transparansi dan kejujuran dalam menyampaikan fakta kepada publik, karena yang dipertaruhkan bukan sekadar citra RSUD, melainkan nyawa manusia.

“Standby itu bukan sekadar ada di tempat. Standby itu berarti siap bertindak cepat tanpa celah waktu yang bisa merenggut nyawa pasien. Kalau masih ada keluhan soal keterlambatan, maka ada yang harus dievaluasi, bukan dibantah mentah-mentah,”lanjutnya.

Ia pun mendesak pihak terkait untuk tidak hanya berhenti pada penyampaian klarifikasi, tetapi juga memberikan penjelasan yang komprehensif serta memastikan adanya perbaikan sistem pelayanan kesehatan demi keselamatan masyarakat.

Terkait proses rujukan ke RS Aloei Saboe, ia juga mempertanyakan sistem yang dinilai terlalu birokratis di tengah kondisi darurat.

“Kalau alasan klasiknya adalah prosedur dan koordinasi, lalu di mana letak urgensi keselamatan pasien? Sistem kesehatan tidak boleh kalah cepat dari kondisi kritis pasien. Jika prosedur justru memperlambat, maka prosedurnya yang harus diperbaiki, bukan dijadikan tameng,” ujarnya dengan nada tegas.

Baca Juga  Korban Pencemaran Nama Baik Tetap Tempuh Jalur Hukum, Klarifikasi Oknum Guru PPPK Dinilai “Tidak Jelas”, Kadis Pendidikan Boalemo Terkesan Membela Pelaku

Ia juga menyoroti pernyataan dugaan gagal jantung akut tanpa adanya otopsi sebagai sesuatu yang berpotensi menimbulkan spekulasi baru di masyarakat, khususnya masyarakat Paguyaman.

“Kalau memang butuh otopsi untuk memastikan penyebab kematian, maka jangan buru-buru menyimpulkan. Ini menyangkut kepercayaan publik. Jangan sampai masyarakat merasa kebenaran hanya setengah dibuka,” katanya.

Di akhir pernyataan Zepri, menegaskan bahwa masalah ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh, bukan sekadar klarifikasi sepihak, agar tidak terulang kembali.

“Rumah sakit adalah tempat harapan terakhir masyarakat. Ketika kepercayaan itu mulai retak, maka yang dibutuhkan bukan pembelaan diri, tetapi keberanian untuk mengakui kekurangan dan berbenah secara nyata. Nyawa manusia terlalu berharga untuk dijawab dengan pernyataan yang terasa aman, tapi tidak menyentuh inti persoalan.”tutupnya.


Spread the love

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *