Jakarta, –Elangmasnews.com) Umat Islam di seluruh Indonesia bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang tinggal menghitung hari. Momentum tahunan ini tidak hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga ruang refleksi nasional untuk memperkuat nilai spiritual, sosial, dan moral di tengah dinamika kehidupan modern.
Puasa Ramadan merupakan perintah Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, dengan tujuan membentuk insan bertakwa. Ibadah ini tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan melatih pengendalian diri, menjaga lisan, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kualitas hubungan vertikal kepada Sang Pencipta.
Senin, 16 Februari 2026, sejumlah ulama dan akademisi Islam menyampaikan bahwa Ramadan adalah “madrasah ruhani” yang efektif dalam membentuk karakter umat. Peningkatan ibadah seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf, serta sedekah menjadi indikator meningkatnya kesadaran spiritual masyarakat menjelang bulan suci.
Dari sisi sosial, Ramadan selalu identik dengan menguatnya solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Tradisi berbagi takjil, santunan anak yatim, hingga peningkatan pembayaran zakat dan infak terjadi hampir di seluruh daerah. Nilai empati tumbuh ketika umat Islam turut merasakan kondisi masyarakat kurang mampu yang setiap hari bergelut dengan keterbatasan.
Secara kesehatan, para tenaga medis menilai puasa memberikan manfaat apabila dijalankan dengan pola makan yang tepat. Konsumsi sahur bergizi, berbuka secara proporsional, serta menjaga hidrasi menjadi kunci agar tubuh tetap bugar. Sejumlah studi menunjukkan puasa dapat membantu menjaga metabolisme, mengontrol kadar gula darah, serta meningkatkan kesehatan mental melalui pengelolaan stres yang lebih baik.
Pemerintah melalui Kementerian Agama dijadwalkan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah. Persiapan pengamanan, stabilitas harga bahan pokok, hingga pengaturan aktivitas masyarakat selama bulan suci juga menjadi perhatian berbagai pihak guna memastikan ibadah berjalan aman dan kondusif.
Pengamat sosial menilai Ramadan memiliki dimensi kebangsaan yang kuat. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal, bulan suci ini juga menjadi sarana mempererat persatuan, meredam potensi konflik sosial, dan memperkuat nilai toleransi antarumat beragama.
Masyarakat diimbau mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Edukasi fiqih puasa, menjaga kesehatan, serta memperbanyak amal kebajikan menjadi bagian penting dalam menyempurnakan ibadah Ramadan tahun ini.
Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum strategis membangun karakter bangsa yang lebih berintegritas, berempati, dan berketakwaan.







